Sebuah Fenomena Penjiplakan di SekolahAha, Kategori “Snapshot” yang pertama di tempat ini.

Pada hari keempat, aku berjalan – jalan ke sekitar perkampungan siswa di daerah Parijs van Java. Entah bisa disebut daerah Buah batu atau tidak, karena sepintas di marka jalan tertulis Rajamantri Kulon. Sehingga perihal macam itu tentunya tidak usah diperdulikan.

Pada perpindahan jam kedua dan ketiga, aku melewati daerah yang berkesan agamis. Kerana rumah Tuhan saat itu akan kulewati. Dimana para pencari surga kerap kali mendatangi (dengan berbagai tradisi Islami), pada waktu sepenggalah matahari. Yang sebetulnya adalah waktu untuk mengistirahatkan diri selepas pelajaran yang duniawi. Yang tentunya juga, hanya seperduapuluhdua murid yang akan mendatangi rumah Tuhan itu, mencari surga, sekali lagi.

Namun langkahku belum genap tiga puluh langkah dan aku melihat sesuatu menonjol dari daerah majalah dinding. (milik ekstra kurikuler bernama DKM ? Tentunya memang benar aku sedang melewati Rumah Tuhan). Sebetulnya aku juga melihat banyak artikel yang lebih sarat akan penentangan kafir, penuh dengan caci maki kepada kaum yang Bertuhankan Akal. Tetapi kali ini berbeda. Trendsetter. Bid’ah.

Dengan sebuah judul yang menjadi dasar déjà vu, “WWW : Konspirasi di Balik Penciptaan Internet”, terus berputar di otakku. Sebuah pertanyaan menyembul keluar dari permukaan otakku. Seakan – akan berbunyi “Tuan, sepertinya aku sangat familiar dengan judul ini. Blogkah ? Apakah ini dari Blog ?

Budaya Cetak – Mencetak Kita Memang begitu 

Proof #1

Jangan bilang lagi kalau Indonesia memang ditakdirkan untuk menjadi seorang penjiplak ? Jangan memberi berita kalau anak – anak muda Indonesia saja sudah terlalu sibuk dengan doktrin agama sehingga mereka jadi tidak tahu lagi bagaimana cara mengembangkan kreatifitas mereka ? Jangan lagi mengatakan kalau orang Indonesia memang sudah tidak bisa naik dari tangga plagiarisme ? Copypasting ? Dari Blog BatakNews ? Duh.

 

Semoga Jarar Siahaan cukup memaklumi “kreasi” anak – anak muda ini. Maafkan mereka, Tuan. ^:)^

Ternyata bukan hanya Indobikers saja yang terkena efek seperti ini.

Ya, resiko sebagai Blogger adalah itu. Aku pun pernah terkena fenomenanya.

Memang kita masih bisa memperbaiki masa lalu. Sudah bukan berita baru kalau kita bisa salah. Tetapi, sudah menyangkut hak cipta, kita tidak mungkin mencetak sebuah nama dengan cara yang nista, dan kita juga harus punya etika. Catutlah nama dan sumbernya. Hargailah karya orang. Janganlah jadikan keringat dan peluh sebagai tangga bersandar menuju penyelesaian semu.

Pernah pula sosok ini tidak menyertakan sesuatu yang layak menjadi linkback pada media padat seperti artikel. Meski itu sudah amat lampau, sekitar enam tahun, dimana aku masih buta teknologi. Dimana hidup masih dihabiskan dengan main layangan. Ketika Google pun baru genap empat tahun. Budaya comot – mencomot oleh anak – anak kecil masih menjadi hal lumrah. Janganlah mau disamakan dengan bocah cilik.

Kurang Puas

 

Proof #2

Karena otak masih minta disuapi sebuah bukti, maka menjadi tugas dua pasang mata untuk kembali melihat – lihat.

Sehingga aku kembali melihat sebuah kesalahan yang diminta untuk dicatat. Repetitif. Sehingga aku tak dapat berbicara banyak. Tentu kita hanya manusia, tempat bernaung segala kesalahan. Tak mungkin aku menyalahkan dua kali.

Tetapi Indonesia harus dibangun kembali oleh orang – orang sakti mandraguna yang mampu mengeluarkan aji – aji dalam tulisan. Haruslah mereka pintar membaca dan mencoret kata - kata.

 

Perilaku Perventif Saya

“Kamu ini turunan anak nakal, ya ?”

Image #3

Demi sebuah kebenaran semu, dan pemberitahuan yang halus, maka aku datang dengan sebuah ide (Gila, catatlah itu dalam otakmu). Tentunya kita tak mungkin mengharapkan sebuah Majalah Dinding dengan fitur “Add Your Comment”. Sehingga hanya dengan bermodalkan secarik kertas dan sebuah bolpoin bertinta hitam, saya mulai menulis komentar.

Karena identitasku saat itu belum dapat diketahui, maka dengan terpaksa aku berubah menjadi seorang anonim yang gaya tulisannya berubah (Karena gaya tulisanku yang sebenarnya adalah ciri khas pejuang kemerdekaan, dimana seperti rumput bergoyang), demikian pula “logatku” yang biasanya digunakan dengan cara baku saat itu diubah dengan akhiran “, tho…”

Tak tega dengan perilaku anonim yang bisa seenak – enaknya mengirimkan teror dalam suara mereka, juga ditambah dengan adanya dua dosa yang sudah aku sebutkan di atas, maka tak pelak aku hanya mengirimkan sentilan halus kepada mereka. Ah, ternyata aku masih berperkemanusiaan.

Ealah, tetaplah nakal aku ini.

—————————————
Aku tidak tahu, siapa yang nantinya akan kebakaran jenggot. Hanya Tuhan yang Maha Tahu.

Tetapi yang pasti, manusia, sekali lagi, adalah tempat bernaung dari segala kesalahan. Sedikit pemberian kritik hanyalah menjadikan warna di dunia semakin indah. Jangan dijadikan sebagai penyebab rasa malu. Aku pun masih belajar dengan hidup, sehingga pemberitahuan ini (dan itu) menjadi tidak mutlak, tidak menjadi yang paling benar.

Sehingga, maaf adalah kata yang cukup menarik untuk diselipkan.