Kalau di Bandung, memang banyak yang menjadikannya sebagai tempat berakhir pekan, khususnya bagi orang Jakarta yang sekarang sudah punya Cipularang. Ya, reputasi Jakarta kian hari kian buruk, entah karena tulisan media massa yang membuatnya begitu, atau karena opini orang. Dalam opini pribadi, tidak semuanya orang Jakarta, karena ternyata Bandung pun memang kurang tersusun.

Kadangkala pula, orang yang berada di dalam tingkatan ekonomi rendah tidak menjadikannya bodoh dimata para borjuis.

Karena saya sudah mempunyai visi untuk membuat suatu bukti.

Karena mata yang lain dari bagian dunia ini sudah mengabadikan semuanya. Mata beraksi dengan gaya 2.0 megapiksel.

Karena hobi saya untuk mengabadikan momen – momen yang amat Indonesiana yang mulai keluar dan terlaksana.

Baca ! Baca ! Baca !

Tukang Beca lagi Baca

*Courtesy goes to Batagor.net

Tukang Beca saja sudah pegang Media Indonesia. Saya belum pernah lihat anak – anak muda yang bertengger di pinggir jalan membawa Kompas atau Pikiran Rakyat. Bukan berarti saya menyarankan membaca dengan isu penyuapan pers dan sebagainya. Baca ! Baca ! Baca ! Kualitas Warga Negara kita itu terletak dari kesukaannya membaca, disamping meniru orang – orang Nihon dalam banting tulang.

Orang – orang sekarang susah baca satu lembar artikel yang berbaris – baris. Saya lihat dalam perpustakaan, orang menyentuh koran untuk melihat jadwal acara Bioskop. Tahunya kalau pegang majalah Remaja, itu yang betulan untuk dibaca.

Blog akhir – akhir ini digandrungi seluruh netters yang mulai berpaling dari Friendster. Harap – harap saja bisa bertemu dengan hobi sekelas membaca, karena konon artikel dari blog itu sarat akan huruf. Sarat akan ilmu dan pengetahuan baru, sehingga tidak sedikit orang akan suka dengan fasilitas macam itu.

 

Silakan Merokok, Tanpa Puntung di Tanah

Rokok memang tak ada kata mati, malah akhir – akhir ini sering menjadi harga mati. Disamping kebiasaan membuang tissue jauh dari etika kebersihan, biasanya banyak orang suka buang puntung rokok ke tanah hanya gara – gara dalam radius 6 meter tidak ada tempat sampah. Lebih daripada itu, banyak orang suka menyiksa perokok pasif sampai sekitar lingkungan penuh dengan bau asap. Kalau bisa, jangan tambahi suasana jelek orang lain yang tidak merokok dengan asap anda. Dosa.

Ngomong – ngomong, Indonesia masih bisa bertahan dari dilema Korupsi dan kejahatan karena rokok itu sudah jadi dewa dalam perekonomian Indonesia. Semacam pemilik usaha rokok saja sudah ada yang pernah masuk 10 besar dalam orang terkaya di Indonesia.

Tapi kalau efek negatifnya yang bersifat komersil, nanti bisa kena kritik dari yang anti dengan Efek Rumah Kaca. Waktu saya dengar ada sebuah Band yang mematenkan diri dengan nama itu, saya tidak menunjuk mereka, tapi yang saya maksudkan tentunya efek yang nantinya akan membuat dunia beku dingin lagi.

 

Jalan yang Dipakai Bersama

Jalan itu sama- sama, tho...

Dipotret dari Jembatan Penyebrangan. Boleh ada yang tidak percaya, namun salah satu buktinya adalah kolaborasi dengan saksi yaitu Aki Herry, lebih daripada itu adalah pengemis yang suka mangkal di sekitar sana.

Silakan dipikirkan sendiri, lebih memilih menuntut artikel ini karena menjadikan aib atau menyadari kesalahan sendiri ? Ingat bahwa tidak sedikit yang mengingatkan kita bahwa jaywalking itu berbahaya. Mulai dari Pemerintah sampai kepada iklan buatan pihak yang sama. Susah amat menyebrang dengan benar. ;))

Kalau mau dikasih fakta mengerikan, bahkan ada yang berniat menyebrang dengan gaya yang sama, berakhir dengan mati tergilas truk beroda empat. Tentunya ada yang berhamburan keluar. Berita ini pastinya akan terkena sensor pers tapi, saya sudah melihatnya dan ini bukanlah pepesan kosong. Menakutkan.

Masih berani ?

 

Perjuangan Pedagang Kaki Lima

Usaha ya usaha, tapi..

Walah, ini yang paling bergaya. Berkelas. Trendsetter. Lagi, tidak dilarang saat itu, oleh aparat berwenang. Tindakan dan cara para pedagang kaki lima sungguh menginspirasi dan menguntungkan kedua belah pihak. Beberapa hari lalu saja saya melihat roda tiga yang berlalu di jalan terlarang.

FYI, saya nggak pernah tahu kalau ada izin yang terlampau resmi untuk berjualan di jalan itu, karena notabene, selalu penuh dengan kuda besi selama 24 jam non-stop. Sumpah, saya nggak tahu. Kalau masalah uang dan pungli, saya tidak mau ikut - ikutan. Mungkin saya tahu, tetapi kalau saya teriak - teriak seperti itu didepan para aparat itu, bisa - bisa saya digondol ke jeruji besi.

Saya tidak sampai hati bilang kalau hukum terinjak – injak. Tapi memang sulit menerimanya.

———————

Demikianlah, saya hanyalah seorang manusia yang tengah berbelit suka dengan sebuah kamera. Mohon dimaklumi kenakalannya.