Jeritan Penduduk Kelaparan
CREATEDBY : Mihael Ellinsworth | POSTEDON : March 17, 2008 – 1:33 pm ADDCOMMENT(20)
Aku lapar. Suara hati ini bukanlah keluar dari kalangan – kalangan mampu yang dapat dengan segera membunuh rasa itu. Teriakan ini muncul dariku, seorang tetua paruh baya yang nyata – nyatanya tidak mampu memenuhi standar empat sehat lima sempurna. Ah, tidak, tidak. Jangankan untuk hal – hal seperti itu, rasanya untuk mendapat nasi saja, belum tentu aku mendapatkannya. Dunia terlalu kejam, hanya orang- orang yang berduit saja yang mampu menguasai segala – galanya.
Sudah tiga hari penuh aku tidak memakan apa – apa.
Penghasilanku sebagai pengemis tidak memberikan hasil yang berarti mengingat beberapa hari belakangan ini, pemasukan yang sedikit itu seringkali diambil paksa oleh para penguasa tanah, yang bermodalkan sebuah bogem mentah untuk menjarah seluruh hartaku. Makan, minum enak. Hanya bisa kurasakan sebagai bunga tidur di dalam dingin yang menusuk, atau malah hanya angan – angan belaka. Belum pernah aku merasakan baiknya hati seorang manusia yang sudi memberikan sebagian keberuntungan mereka padaku.
Ah, ketika aku mengingat kembali masa lalu, mungkin aku masih akan menangisinya. Ketika istri dan kedua anakku sekarat, kutemukan mereka tak berdaya menghadapi hidup dengan sisa tenaga yang hanya sedikit. Tanpa tenaga, mereka meminta sesuatu untuk dimakan. Merayapi lantai dengan penuh harap apabila aku membawakan sesuap nasi untuk mereka.
Tetapi aku tidak membawa apa – apa. Kosong.
Aku hanya bisa menyeka air mata yang sebenarnya tidak pernah keluar. Mungkin air mataku habis, sama habisnya dengan tenaga istri dan anak – anakku yang sudah bebas dari penderitaan hidup ini. Mereka mati, dengan menyisakan sebuah pertanyaan. Mengapa aku tidak dapat memberi mereka makanan ? Mengapa tak ada orang yang Maha mengetahui di dunia ini, tak ada yang berinisiatif untuk memberikan panganan sekadarnya untuk kami? Biarpun hanya sebulir nasi yang putih jernih ? Mengapa orang – orang hanya bisa mengurusi perutnya sendiri ? Mengapa Pemerintah…
Kuhentikan suara hatiku. Kini aku mengerti, tak ada gunanya melampiaskan kekesalan kepada mereka. Mereka tidak akan mendegar, tidak akan pernah. Selama perhatian penguasa hanya tertuju pada emas kertas dan keuntungan lahiriah, mereka tidak akan pernah mengurusi orang – orang yang tak bertenaga sepertiku.
Mungkin akal sehatku sudah tak berjalan lagi, aku hanya ingin makan. Makan. Memberi tenaga pada perutku yang sudah tidak bisa berbunyi, tidak lagi meminta diisi sesuatu. Memenuhi sedikit tenaga yang sudah habis dimakan usia dan waktu. Aku tidak mampu berharap lagi.
Pada pandanganku yang mulai rabun, kulihat seorang pedagang pedagang asongan. Dia menjual permen. Permen yang manis, untuk mengumbar tenaga yang kesekian kalinya hilang itu. Dengan sisa tenaga, aku berusaha untuk mengambil satu saja kenikmatan dari pedagang sial itu. Aku sudah banyak berusaha.
Usaha yang tidak membuahkan hasil.
Aku terjerembab. Kudengar makian yang tidak jelas kudengar. Beberapa detik kemudian pedagang itu menendangku, dan akhirnya kembali berjalan dengan kesal. Tendangan itu sungguh menghilangkan napas dan keinginanku untuk memakan sesuatu. Aku lelah. Tak mungkin berbuat banyak.
Lalu hujan pun turun dengan deras. Dengan kekuatan hidup yang tersisa, aku menggapai sisi jalan yang teduh dari ancaman air hujan. Aku merayap, tak mungkin lagi aku berjalan. Dengan semangat yang mulai redup, aku berhasil menggapai kenikmatan berteduh. Derasnya air hujan diikuti dengan datangnya malam dengan dingin yang menusuk kulit.
Tak lama kusadari, aku berteduh di sebuah rumah makan. Aroma dan kenikmatan dari bau makanan itu menghiasi penciumanku. Banyak sekali orang lalu lalang untuk menikmati santapan malam, tak jarang mereka adalah keluarga besar yang bahagia sehingga mereka mampu memberi seluruh anggota keluarga dengan makanan yang enak.
Aku kembali menangis. Andai aku seperti mereka, tak perlu aku melihat kematian anak dan istriku. Mungkin aku sudah berbeda daripada sekarang. Sudah bebas dari belenggu kelaparan. Sudah mampu untuk bergerak dan mencari penghasilan yang lebih layak.
Mungkin Tuhan berkata lain untuk nasibku. Mungkin memang beginilah harusnya, atau mungkin aku tidak pernah mengusahakannya semenjak dulu.
Tangisku tidak berlanjut. Pandangannya kembali redup, cahaya malam yang diselimuti oleh terangnya sinar lampu hampir tak terlihat olehku. Tubuhku terkulai. Menyentuh kerasnya aspal, tak kuat lagi badan menopang beratnya kepalaku. Kemudian, otakku mulai berhenti bekerja. Sebelum aku benar – benar berpulang ditangan malaikat kematian, aku mengatakan sebuah kalimat.
“Apakah kalian tidak peduli dengan keadaan orang – orang di sekitar kalian ?”
Lalu akupun tergeletak mati.
————————
Series of Unfortunate Events. Mungkin kata itu amatlah pas ditujukan untuk kalangan miskin, apabila pengarang novel bestseller itu sudi untuk meminjamkan judul bukunya kepadaku. Tak ayal, kejaidan diatas bukan hanya sekali dua kali. Mungkin Daeng Basri hanya bisa menjerit melihat kematian istrinya akibat tak mampu lagi memberi sesuatu untuk dimakan.
Apakah ada daripada kalian yang tergerak hatinya untuk peduli ? Mencegah kepedihan yang ditimbulkan oleh bencana kelaparan ? Menginginkan hati untuk memberi sebuah bantuan dan cinta kasih ? Tergerak dari inisiatif Mbak Hanna, saya selaku Blogger membuat sebuah coretan tangan ini, untuk warga – warga Indonesia yang ditimpa musibah yang sama.
Bahwa Blogger bukan hanya berisi penipu seperti kata Om Pakar Telematika itu. Sebelumnya, saya minta izin sebesar – besarnya untuk menampilkan informasi di bawah, mohon bantuannya :
no rekening:
118-00-0577625-6
Tjhia Fui Ha
Bank Mandiri
KPC. Puri Indah
no rekening:
479-0057126
Tjhia Fui Ha
BCA
KPC. Bojong Indah
Sebuah tindakan sukarela untuk menghidupi kehidupan manusia, sekali lagi. Terbilang 5 hari dari sekarang, mengingat sebenarnya batas waktunya adalah seminggu. Terima kasih sudah memperbolehkan saya mengikuti gerakan ini
Artikel Terkait :
1. Mari Menyatakan Kespritualan Kita
2. Miskin lalu mati ??
3. Aksi Nyata Anti Kelaparan, Meski Kecil
4. TPC - GO BLOG CAMPAIGN : TuguPahlawan.Com
5. Stop Kelaparan
6. Lapar Menjemput Ajal, Pedulikah Kita ?
7. Atas Nama Kemanusiaan
8. Stop Kelaparan [2]
9. Bandingkannn!!!
10. Nasi Aking dan Sirnanya Empati Kita Terhadap Sesama
11. Mari Peduli
12. Peduli, Peduli Yuk Kita Peduli
13. Untuk Indonesia Dari Indonesia!
14. Mereka Berhak Juga untuk MAKAN!!
15. Indifference
16. Ketika Kenyang Menjadi Hal yang Langka
17. Vicious circle of poverty
18. Saatnya Blogger™ Unjuk Peduli!

Mihael Ellinsworth is a pen name of Mohamad Jaka Prawira. Currently reaching his seventeen after his birth of 1991. Got himself lostfocus on the way studying at Twenty-Two Senior High School, Bandung. Blogging is his main interest while his article is nowhere to go down with, sometimes. His current loves involve to make poem, Arts, Design, and Games. Not-so a Web Designer, though, but he likes to play alot with CSS, jQuery, XHTML, and anything he can learn. Live 'peacefully' in his resident on Kalapa, Bandung, Indonesia. Also Maintain on 



YOURBROWSER :
Saya tidak mengerti, kenapa sesuap nasi saja berebut..
YOURBROWSER :
karena orang-orang hidup untuk makan…
edy - Blog Post : Dolphin Show di Cileduk
YOURBROWSER :
YOURBROWSER :
Salah quote, maksudnya:
“Di tanah Kalimantan, mungkin Daeng Basri hanya bisa menjerit melihat kematian istrinya akibat tak mampu lagi memberi sesuatu untuk dimakan.”
Effendi - Blog Post : Playlist
YOURBROWSER :
@ edy
Ada yang bilang hidup untuk mati.. :lol:
@ Effendi
YOURBROWSER :
@ Effendi
Salah ketik. Sudah kubetulkan.
YOURBROWSER :
dukung kampanye [-O<
Abeeayang™ - Blog Post : Telat Makan dan Gizi Buruk
YOURBROWSER :
Terimakasih sudah ikut bergabung
CY - Blog Post : Antrian Masuk Neraka Indonesia, Mau??
YOURBROWSER :
kok trekbeknya blom masuk ya??
cK - Blog Post : Ketika Kenyang Menjadi Hal Yang Langka
YOURBROWSER :
Susah bener Daeng Basri mencari, hanya sekedar untuk satu suap nasi saja..
Yuk.. kita dukung dengan sepenuh hati, jiwa dan raga!
Lebih baik telat daripada tidak sama sekali.
YOURBROWSER :
Jah.. last postku kok tak mau nongol2 sih??
*gedor-gedor kebot*
YOURBROWSER :
Gie, sampai Jaman Firaun dagang rujak juga nggak akan keluar. Ngapain Website diisi sama Email ?
@ cK
Sudah. Maaf, lupa.
@ CY, Abeeayang™
Makasih.
YOURBROWSER :
Db…
Rekeningnya Banknya ganti yang Mandiri ya.
Makasih ya dah peduli.
Tulisannya mantep…
Hanna - Blog Post : Lapar Menjemput Ajal, Pedulikah Kita?
YOURBROWSER :
*nunggutrekbek*
Moerz - Blog Post : Terbunuhnya Sang Lapar
YOURBROWSER :
semakin rame aja kampanyenya… makasih banget dukungannya…
YOURBROWSER :
DB trekbeknya dah nyampe. Makasih yach. *halah*
Wakakakakakakaka…!
Ada DB bearti ada Batagor.net juga yg turut mendukung.
Senangnya…
Ina - Blog Post : Mereka Berhak Juga untuk MAKAN!!
YOURBROWSER :
absen aja…. saiyah udah bikin postingan kmapanye ini juga…
never say never - Blog Post : Vicious circle of poverty
YOURBROWSER :
aihhhhhh kemana negara ini
almascatie - Blog Post : Hanya Dermaga Tempat Bersandar
YOURBROWSER :
Huhuuu…
Baru diricek, bos…
*mengelak, nyalahin Wand Opera*
:-”
BLOGIE - Blog Post : Makna Cinta Sejati
YOURBROWSER :
laperr. pengen makan bareng orang-orang yg laperr.
Q chan d sachou - Blog Post : berbincang dengan mang supir angkott.