LogoSemenjak dan sebelum kompetisi kemarin, yang namanya menulis sudah menjadi suplai hidup keseharian bagi seorang saya. Bagaimana tidak ? Beban moral dan tanggung jawab besar untuk merubah kehidupan Indonesia sepertinya sudah membuat saya menjadi semakin sok tahu dan seakan - akan menjadi dewa (Macam sialan orang ini, lha…). Di sisi lain, saya sadar apabila saya barulah menjadi sebutir debu, seonggok sampah, segenggam ruh yang bisa hancur kapan saja, dan harusnya ditendang dari puing - puing kehidupan. Makanya jadilah saya sedikit melankolis. Kadang - kadang berfilsafat, membuat wejangan (Yang anehnya malah saya buat ketika jam pelajaran berdendang). merenung dan berpikir tanpa kendali, sambil berharap tidak ketahuan anak - anak sekelas dan ditertawakan.

Beberapa wejangan tersebut kadang muncul saat pelajaran Sosiologi, sebuah mata pelajaran kunci untuk kami - kami yang menunggu kursi berikutnya di kelas Sosial. Dimana seorang guru yang mengajarkan nilai - nilai kebaikan luhur dalam berbagai strata sosial itu, seringkali menginspirasi saya untuk memberikan nilai kasih yang bisa dinilai dengan kata - kata. :D

Diantaranya adalah susunan kalimat seperti dibawah ini. Nikmatilah.

~ Saya bisa Maju. Kerana sebuah pertikaian pun saya tidak sudi untuk mengikutinya.

Anda tahu Realita Blogosphere ? Dimana Roy Suryo menjadi badut maya ? Dimana BBV dari Parijs Van Java sempat menantang keberadaan sang Pakar Telematika ? Dimana para prajurit Berpeci akan menyerang kaum Ahmadiyah disaat Jumat akan usai dalam Shalatnya ? Lalu dimanakah saya dan hubungannya dengan semua itu ? Apakah saya membahasnya ? Apakah saya mencoba terlibat dengannya ?

Tidak. Saya maju. Disaat kalian bertikai sesama manusia, disaat kaum barbar saling bertengkar, orang seperti saya akan selalu merangkak maju. Meninggalkan seluruh perang mulut dan adu golok. Anda mencoba untuk membuktikan bahwa Blogger dan Hacker tidak negatif ? Jangan dengan Deface, bisanya ! Hanna dan komunitas Batagor sudah membuktikan ucapan mereka dengan aksi, bukan dengan basa - basi ! Ketahuilah bahwa Yusril Ihza Mahendra, juga Wimar Witoelar selalu melakukan hal yang sama.

Saya tidak ingin sombong, juga tidak mencoba rendah diri. Karena seharusnya kita bukan menghabiskan waktu dengan bermain api. Masih banyak yang harus diselamatkan. Tolong.

~ Saat kecil, berusaha Merubah Dunia
Merasa bisa, mengatur segalanya.
Saat remaja, berusaha merubah negara
Tak ayal lupa, kebodohan tengah melanda
Saat dewasa, berusaha merubah sekota
Sadar diri tak kuasa, sulit melupakannya
Saat menua, berusaha merubah keluarga
Tua bertandang, rasa kuat juga menghilang
Ajal menjelas, berusaha mengubah satu manusia
Satu manusia, diri sendiri, dengan perjuangan dan luka

Tentunya banyak dari kita yang sering merasa superhero macam bait puisi diatas. Dimana kekuatan amat mengalir, namun seiring waktu, kita menjadi lemah. Digerogoti waktu dan buasnya penipuan. Harusnya kita bersyukur, karena banyak yang tidak bisa sleamat dari itu semua.

~ Budaya, Agama, Suku, Ras.
Keindahan yang Membahayakan
Keanekaragaman bak dua bilang pedang.
Satunya untuk melindungi manusia.
Satunya lagi untuk siksa-menyiksa.

Bayangkan. mengapa keindahan Indonesia ini justru membuat klan dan bagian dari kita ini menjadi semakin merasa berkuasa ? Primordialis ? Mengapa kita tidak mau menerima eksistensi manusia lain yang tidak jauh berbeda dengan diri sendiri ? Mengapa ada perang antar suku ? Pertikaian antar Ras ? Pergulatan antara agama ? Apakah sebenarnya kehancuran itu yang diingikan Tuhan ? Ataukah manusia ?

~ A Single Decision may lead into thousand of Apocalypse.

Ya. Maka dari itu. Pikirkan sebelum bertindak. Khususnya dalam Pemilihan penguasa daerah Jawa Barat kemarin. apakah hati nurani kita sudah teguh dengan pendirian untuk memilih kandidat ? Apakah pilihan kita bisa dianggap benar oleh kemanusiaan ?

————–

Ya, hanya bisa sebegitu saja. Cukup jelas. Wejangan tidak akan pernah berakhir secara spontan. Masih akan ada episode 2 dan  episode - episode berikutnya. Yang saya harapkan justru untuk dapat membuat artikel ini semakin mudah dipahami, berhubung saya menulisnya dalam keadaan setengah melankolis dan dibawah alam sadar.