Saya mengetahui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan, dan dimana ada kesalahan, disitu saya mempunyai hak untuk memperbaikinya. Dimana luput berada, saya kira sang teraniaya akan menyebar gerutu dan komplain yang spesifik. Saya juga salah satunya. Mengatasnamakan sebuah acara yang berkelas di Bandung bernama “Seleksi Penerimaan Siswa Berprestasi”, kurang lebih. Bertempat di SMKN 3 Bandung yang tentunya tidak memiliki kesalahan dalam acara ini (Mengingat mereka, sekiranya, baru menyediakan tempat). Sekiranya diadakan oleh Dinas Pendidikan Bandung. Seharusnya sudah masuk event untuk kalangan prestise, bukan ? Selama ini saya menghipotesakan sesuatu dengan asas “kalau tidak salah”. Nah, semenjak awal. Saya sudah merasakan kesalahan besar dalam acara ini.

Begini. Acara ini berlangsung tanpa pemberitahuan yang spesifik. Saya mendapati kabar mengenai acara ini dari Wakil Kepala Sekolah SMA saya yang menyatakan bahwa ada acara terkait yang didasari pada pertemuan awal berupa technical meeting. Dengan embel - embel presuasif berupa “Hanya sebentar kok. Paling lama satu jam.”, saya pergi bersama pasangan saya satu lagi.

Ternyata, apa yang saya dapati disana adalah sebuah event yang tidak terorganisir. Ketika absen bergulir dan berakhir, semua siswa terkaget kaget ketika sebuah tugas pengerjaan 100 soal harus mereka hadapi saat itu juga. Sebuah kesimpangsiuran ? Ya. Anda patut mengetahui bahwa salah satu peserta dari SMAN 20 juga mengeluhkan hal yang sama. Mereka mengaku bahwa baru mendapatkan informasi mengenai acara tersebut pada hari Minggu atau Jum’at lalu. Sekarang bayangkan, apa yang bisa kami persiapkan dengan tugas mendadak macam itu ?

Dan bukan hanya itu saja. Ada kesimpangsiuran kedua.

Setelah tes yang direncanakan sulit tersebut berakhir. Kami tidak bisa bernafas lega, karena suruhan untuk membawa sebuah hasta karya dan sebuah kesenian untuk diperformakan esoknya. Apakah ini juga termasuk dalam agenda Technical Meeting ? Apakah kita memang hanya bisa disiksa untuk menyiapkan sebuah hasta karya yang berguna untuk kemanusiaan selama 24 jam ? (Tolonglah, bahkan ada yang harus membuatnya dalam waktu 7 jam penuh tanpa istirahat, bahkan mereka memakai bahan daur ulang) Sekedar catatan bahwa acara tersebut sangat jauh dari apa yang diprediksikan wakasek kesiswaan SMA, sekitar 4 jam lebih.

Dan ada lagi. Pada hari kedua, terjadi sesuatu yang lebih miris. Acara tersebut memakan waktu lebih dari waktu sekolah siswa - siswi “tidak berprestasi”. Sampai pukul 6 sore dari pukul 8 pagi ! Hal tersebut diperparah dengan tidak adanya konsumsi yang disediakan untuk para siswa/siswi setengah lapar itu. Simpangsiurnya acara juga diikuti oleh kacaunya rundown acara yang diperulah oleh panitia (Sangat kontras karena kekacauan hari pertama dibuat oleh murid bersangkutan)

Ketidakprofesionalan panitia juga AMAT terlihat. Ketika saya berusaha untuk mengkomunikasikan keluhan saya secara verbal, mereka menjawab seakan - akan acara memang seharusnya “rusak”. Saat saya jawab kira - kira begini :

A : Pak, apa tidak bisa lebih cepat, kabarnya acara selesai setengah tiga.
B : Lho, harusnya jam 7 ini ! Tahun lalu saja begitu ! Namanya juga acara siswa Berprestasi…

OK, jadi sombong, nih ? Mentang - mentang acara ini sekaliber Bandung dengan persiapan dari Dinas Pendidikan Bandung menjadikan sekelompok panitia ini berhak menggembar - gemborkannya untuk menutupi kesalahan ? Tahulah, bahkan Olimpiade Sains FIsika saja diberikan konsumsi yang layak. Masa acara yang menguras tenaga ini tidak ?

Ya, saya tidak sungguh - sungguh dengan kata di atas. Itu aspirasi dari teman - teman saya sebagai siswa dan peserta yang teraniaya. Ingat, dong. Kita juga ingin punya waktu untuk hal lain. Kecuali kalian bilang dan usahakan untuk siap ketika acara technical meeting kemarin !

Jadi….

Biasakanlah untuk tepat waktu. Event swasta saja sudah bisa untuk konsisten dalam mempersiapkan waktu dan panganan. Ingat, kalian membawa nama kota dan negara (Saya dengar acara ini akan sampai tingkat nasional)

Jadi, OK ?

Note : Komentar dan keluhan dilayangkan dalam kondisi setengah marah, dengan memasukkan aspirasi dari peserta - peserta lain yang saya temui saat lomba berlangsung.