Sang waktu berdentang pada angka kelima. Kala itu aku masih mengejar nafsu di depan kanvasku. Membuat sang gadis kembali tersenyum indah, sedari dirinya masih berupa goresan hingga sempurna menurut perspektif manusia. Hari ini mungkin adalah hari keenam dari bulan keenam. Ah, sebelum itu aku berpikir apabila penanggalan diatas kurang klop, tetapi itu tidak menjadi hambatan berpikirku.

Hari ini juga bulan keenam.
Bulan ini termasuk hari keenam.
H-4.

Sebelum itu, mataku telah melihat berbagai kemunafikan, kenistaan manusia, yang tercipta di dalam benak orang - orang tersiksa. Kegilaan tersebut dicontohkan; ketika mereka yang beridentitaskan fanatik berusaha menegakkan agamanya, dengan saksi bisu sebuah monumen di tanah nasional. Menyayangkan semua kebodohan dari manusia - manusia dengkul ini sudah tak mampu kulakukan. Jika hendak dibilang beruntung, boleh kata ketika aparat berwenang sudah bersiap menangkap lakon utamanya. Sang Panglima. Laskar Jihad. Katanya.

Penerawanganku juga melirik kembali kepada kursi wakil rakyat. Dimana kasus penghancuran martabat dan pelecehan seksual, sekali lagi, mencoreng nama baik sang Garuda. Gugatan tersebut dilayangkan, namun saya bisa saja berspekulasi kalau kelakuan tersebut adalah sekedar mencari muka di media massa, atau memang sedang tersendat - sendat di jalan keadilan.

Tak lama berselang ketika aku berpikir mengenai ini dan itu, sebuah teriakan mengagetkan semua jenis manusia. Teriakan, sebuah ekspresi. Ekspresi kekecewaan. Ketika Sang Merah Putih belum juga berhasil memasukkan sesuatu apapun, untuk merobek keperawanan dalam kandang negeri Jiran. Massa yang menjadi pendukung juga, harus menahan amarah tatkala wasit memberikan ‘denda’. Denda yang dalam perspektif mereka, adalah sebuah kelewatan. Padahal apa yang mereka lihat adalah sebuah pertandingan, pertandingan persahabatan.

Terlepas dari itu semua, akupun kembali memikirkan diri. Tuhan, Keluarga, teman, dan refleksi sendiri. Aku sadar akan apa yang sedang kupikirkan sejak awal. H-4.

10 Juni itu akan menjadi tahun yang terulang, saat ketika aku layak membuat idntitas. Saat dimana aku bisa membeli bacaan - bacaan yang dikhususkan untuk orang seumuranku. Saat dimana aku mulai beranjak kepada dewasa. Dan seharusnya aku mulai memikirkan umur yang semakin menua.

  • Digg It
  • add to Del.icio.us
  • Stumble it !
  • Furl
  • Stumble it !
  • Fave with Technorati