Sebelas  Juni Dua Ribu Delapan, kala itu…Aku bosan.

Yang pada akhirnya membuatku menjadi tidak lagi produktif dalam menulis. Irama kata - kataku sudah hambar karena beropini menjadi sebuah rutinitas yang diharuskan untuk ada bagiku (atau, “Semua kebiasaan itu menjadi tugas yang mewajibkanku untuk mengerjakannya“). Membunyikan kedua speaker komputer, mendengarkan sesuatu yang berirama. Menggoreskan pena. Membaca buku mencari inspirasi. Ah, semua itu adalah hal yang berulang. Gelisahnya hati membuat pikiran ini memberontak.

Lihatlah aku ! Hangus karena berpikir ! Kau tak tahu diri, hah !? Aku juga butuh waktu memulihkan tenaga ! Mengapa kau hanya memberiku 4 jam sehari untuk tidur !?”

Kalau aku adalah otakku, maka aku akan berteriak begitu.

Untuk menghadapi malam, dengan sekelibat waktu yang tersisa, aku terdiam. Dalam suntuknya kehidupan dan kakunya manusia. Sebuah rutinitas, katanya. Aku memang lelah, dikejar - kejar oleh setan jalang dalam diri yang selalu menanyakan, “Kapan kau akan mengerjakan ini !?“, sehingga hidup yang seharusnya dinikmati terasa sia - sia.

Aku kesulitan bernapas. Semua jatah oksigenku sudah direbut oleh hina-dina sebuah keharusan. Gila, bila engkau melihat sosok lelaki tua disana, yang seharusnya bisa membereskan segala perkara dalam waktu yang tidak terbilang banyak. Namun engkau sebagai waktu telah menggerogoti kesempatan sehingga terus berada dalam kegilaan yang mendalam.

Waktu di dunia ini masih kurang, nampaknya. Teriakan itu disuarakan oleh raungan sang jantan. Termasuk oleh diri yang juga memiliki opini serupa. Andai ada jabatan sebagai Pemerintah Dunia, maka aku akan bersuara serak; meminta perpanjangan hari dalam dua puluh empat jam itu, menjadi berlipat - lipat, sehingga cukup bagiku untuk menuntaskan berbagai tugas yang mendera.

Pikiran yang egois ! Kau pikir keputusanmu itu dapat membuat orang senang !? Lihatlah mereka yang juga akan kesusahan ! Penyewa penginapan, kau lihat; mereka akan terus merugi dan rugi karena setiap harinya akan terasa lama bagi mereka untuk mendapat upah setimpal. Akan tidak seimbang ! Sampaikah kau kepada bayangan yang sama !?

Nyata - nyatanya, untuk menjadikan hal tersebut nyata adalah sesuatu yang hampir mustahil adanya.

Maka dari itu, aku lari. Lari. Menciptakan dunia sendiri, berharap akan suatu keajaiban yang dapat menjadikanku menjalani hidup lagi dengan saksama.