Kala itu mungkin pukul sepuluh lebih tiga puluh lima menit, 28 Juli 2008, Dimana orang - orang di hari Sabtu lebih suka duduk bersantai menikmati indahnya liburan. Adalah saya, yang sedang bersuka cita menyusuri perjalanan Bandung. Mengikuti arus kemacetan di Parisj van Java menjadikannya sebagai pengalaman tersendiri. Bersama teman - teman yang ada dalam Komunitas Blogger Bandung, saya menemukan diri berada dalam kerumunan orang - orang banyak (utamanya yang berada dalam kelaparan). Seharusnya memang; Gasibu adalah tempat yang biasa menjadi jajahan mobil berpelat B dan muka - muka orang Betawi di akhir minggu; Namun keramaian ini menjadi sebuah perbedaan tersendiri.
Nyatanya, tempat ini menjadi saksi bisu terselenggaranya acara “Festival Jajanan Bango 2008“, atau dengan kode nama yang lebih khas, FJB08. Dimana banyak sekali orang yang menjajakan panganan asli Indonesia (yang sebetulnya dalam jumlah yang amat banyak; Seperti misalnya Batagor Riri, Martabak San Fransisco, atau Es Cendol Elizabeth) dengan kualitas dan cita rasa. Puluhan Stand merapat pada satu pola rektangular, dengan pola dan hiasan a’la kedaerahan yang memikat penglihatan. Sebuah panggung berdiri megah, meski tidak menghadap langsung ke Gedung Sate, namun tidak menjadikannya suatu masalah.
Panas menyengat membakar kulit orang – orang. Tetapi itu wajar, sebab sang surya telah berada di atas ubun – ubun. Aku masih terpaku dalam penelusuran jejak peta FJB08, yang berada tepat di depan Gapura besar. Lalu aku berpaling, melihat kerumunan orang di sebuah tenda bertuliskan “Media Center”. Ternyata Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat, yang nyatanya ingin menikmati wisata kuliner Nusantara di Lapangan Gasibu.
Semua ekspetasi yang kulihat tak pelak membuatku lapar. Lambung berteriak meminta diisi dengan panganan siang. Uang di dompet sudah merengek – rengek untuk dipindahtangankan. Saat itu yang menyambut kami adalah Stand dari Warung Iga Bakar, yang berada tepat di sebelah panggung. Aku langsung memesan tiga buah, tentu diperuntukkan untuk teman – temanku juga.
Yang tidak kusadari adalah bumbu racikannya; Bahwa komposisi cabai yang tergolong banyak itu tersembunyi di balik saus daging dan tomat. Tanpa Teh Lemon Sari Wangi yang kami beli, tak mungkin bisa tahan menghadapi pedasnya Iga Bakar tersebut. Tetapi kelezatannya tiada tara. Kadar asin yang diterima oleh papilla sebanding dengan persentase manisnya. Hanya dengan membandingkan saja, kurasa tidak mungkin makanan sekelas Indonesia ini bisa kalah dengan produk luar yang berlabel “Cepat saji”.
Buaian rasa dan harum dari sajian Nusantara tidaklah berakhir sampai di sana; Aku masih sempat merasakan hangatnya jahe yang terdapat dalam Bandrek Bandung “Braga”. Atau manisnya Es Cendol Elizabeth. Sempat juga kurasakan gurihnya keripik singkong dengan rasa yang penuh variasi. Ah, lukisan kata – kata saja nampaknya belum cukup untuk menggambarkan surga kuliner ini.
Imajinasiku untuk kesekian kalinya berjalan, “Pastinya kenikmatan yang aku rasakan ini, tidak lahir kemarin sore.” Adalah tidak mungkin bila kelezatan itu tiba – tiba turun dari langit. Adalah aneh apabila Tuhan membuka jalan kemuliaan, tanpa sebuah ujian. Sosok yang paling berjasa dalam memberikan cita rasa ini adalah rakyat kita sendiri. Warisan kuliner dari nenek moyang adalah suatu berkah yang prosesnya tidaklah sebentar. Perjalanan cita rasa ini tidak boleh bertemu dengan kepunahan.
Kadang tidak habis pikir mendengar bahwa, sosok remaja yang segenerasi denganku tidak menyukai jajanan kuliner yang disuguhkan pedagang lokal. “Kami mementingkan brand !”, teriaknya. Mungkin maksudnya adalah produk kuliner luar, yang bernuansa European. Bagi mereka mungkin, Beef Lasagna lebih berkualitas daripada Nasi Tutug Oncom.
Aku seram, Kita ngeri. Sebuah ketakutan yang amat sangat, apabila kuliner lokal yang kaya ini menghadapi kepunahannya. Sebagai orang yang menjajal bangsa ini di kehidupan berikutnya, aku mempunyai tugas lain; Untuk mencegah kuliner Nusantara dari kehilangannya.
Ah, beberapa detik berlalu dan perut sudah penuh, saatnya bertolak ke rumah makan lain. Ternyata ada rapat lain diselingi makan - makan.
*Sebuah entri yang terlambat*





























YOURBROWSER :
Salam
Hmm, bilang aja ma mereka, emang enak di lidah klo mentingin brand he..he..kebetulan gw omnivora yang ga pandang bulu..makan apa aja hayo yang penting higienis, sehat, halal dan thoyib, tul ga??
btw, trims sudah mampir di SENYAWA ya, salam kenal aja :>
nenyok » » last post title - SoulMate
YOURBROWSER :
sayang euy sayah gak bisa ke sana
Amrul » » last post title - A Gift in PIMNAS XXI 2008, Semarang
YOURBROWSER :
:> salam untuk dede yusuf yah … emang sekarang dia jadi bintang iklan kecap yah? halah …
YOURBROWSER :
selalu aja di lapangan gasibu,
klo gak di gasibu, kayaknya gak seru..
halah..
bandung..bandung…
rindu euy hoyong ka bandung deui..
oRiDo™ » » last post title - [HOTD] jOdOh pilihan..
YOURBROWSER :
@ All
Baru datang aku, dan..AGHH !!! Salah ketik lagi !?
‘Tak betulkan deh.
YOURBROWSER :
hah? dede yusup udah jadi gubernur? *baca komen aki herry*
eh, gilee… kmane aje gueee…
YOURBROWSER :
Buat saya, makanan apa aja enak selama masih bisa dimakan.
Mungkin kecuali yang sering muncul di acara Bizarre Foods.
Jadi lapar tengah malam baca ini.
Xaliber von Reginhil » » last post title - Prajurit Jerman yang Menembak dengan Bazooka