Monthly Archives - September 2008 -

Pelepasan Belenggu Puasa

Created by - Mihael Ellinsworth | Posted on - September 29, 2008 – 1:40 pm | 10 comments
Pelepasan Belenggu Puasa

Sebentar hari adalah hari yang Fitrah. Kembali kepada kesucian bagaikan bayi yang baru dilahirkan ke dunia fana. Tiga puluh hari kita ditugaskan menahan si nafsu dan sang marah. Membelenggu sang lapar dan si haus. Menggemakan asma Sang Pencipta ketimbang musik yang membahana. Membuat mata melihat yang baik - baik saja. Ketika adzan maghrib berkumandang, semua yang terlarang hampir akan menjadi mudah dilakukan. Apa yang sebenarnya kita pikirkan di hari kemenangan ?



Review Film Laskar Pelangi

Created by - Mihael Ellinsworth | Posted on - September 26, 2008 – 7:25 pm | 16 comments
Review Film Laskar Pelangi

Laskar Pelangi menceritakan tentang Pulau Belitong, tepatnya memperlihatkan kehidupan di sekitar SD Muhammadiyah daerah Gantong. Sembilan orang murid yang sebenarnya berstatus sebagai warga miskin bertekad untuk menuntut ilmu di situ. Guratan bahagia Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranagara) hampir saja sirna ketika murid kesepuluh tak kunjung datang. Padahal menurut peraturan sekolah pusat, apabila tidak ada 10 orang murid yang menuntut ilmu, maka tahun ajaran baru tidak akan pernah ada bagi mereka. Sosok Harun, seorang murid istimewa menyelamatkan hari tatkala dia datang sebagai murid kesepuluh yang akan berada di sana. Terkesima dengan mereka, kesepuluh murid tersebut diberi nama Laskar Pelangi. Selama 5 tahun itu, mereka mengarungi ombak - ombak masalah dan hingar - bingar kesenangan sebagai murid SD.



Life | Death | Changes

Created by - Mihael Ellinsworth | Posted on - September 26, 2008 – 6:58 pm | 14 comments
Life | Death | Changes

Saya memang menghilang. Namun di manapun anda berada, biasanya saya ada di sana, membawa kamera apabila bisa. Bukan hanya Benny dan Mice saja yang bisa menyusup di balik hura - hura kota Jakarta. Saya menyaksikan bagaimana orang mau mati untuk mendapatkan tiga puluh ribu rupiah. Saya juga melihat seorang manusia di belantara universitas yang katanya mempresentasikan pendapat lewat media maya, meski hanya sekelibat. Bahkan pemikiran saya sudah ada sejak tahun 1945, dimana saya membayangkan diri membawa bedil dan memberi hormat di hadapan sang Saka merah Putih. Tetapi raga yang tiada memang menjadi suatu keraguan bagi siapa yang tidak mengetahuinya. Saya berada di darat. Menjadi manusia sepenuhnya. Meski berlagak tua, saya hanyalah seorang bocah ingusan yang masih harus menghadapi UAN dan Senam Petani, dan dalam artian pendek : Saya belajar kembali.