Dasarnya memang sudah ingin menang.

Subuh berganti pagi. Pagi berlanjut siang. Siang mengejar petang, dimana sang malam dengan setia akan kembali menuju subuh. Ritual puasa bulan Ramadhan ini telah membuat kita pintar menghitung menit. Merubah kita jadi mampu mengakali sang waktu. Menjadikan kita dapat mengubah diri, dari pekerja keras menjadi pemalas.

Tiga puluh hari kita ditugaskan menahan si nafsu dan sang marah. Membelenggu sang lapar dan si haus. Menggemakan asma Sang Pencipta ketimbang musik yang membahana. Membuat mata melihat yang baik - baik saja. Ketika adzan maghrib berkumandang, semua yang terlarang hampir akan menjadi mudah dilakukan.

Kini, di hari keduapuluhdelapan- Semua orang yang merasa terkekang dalam rantai semu “dosa dua kali lipat di bulan puasa” akan merasa merdeka. Orang - orang yang awalnya tidak bisa mencicipi sebatang rokok di bulan penuh makna ini, mulai merasa seperti budak yang dimerdekakan. Orang - orang yang tidak kuasa meminum bir lokal di pagi buta, akan segera mendapat kebebasannya.

"Selamat" - Idul Fitri

"Selamat" - Idul Fitri

Karena, “Selamat Idul Fitri”.

Dimana umat manusia kembali menjadi fitrah. Kembali kepada kesucian bagaikan bayi yang baru dilahirkan ke dunia fana - Dengan catatan apabila tonggak amal puasanya sempurna pada hitungan 30 hari. Dimana mayoritas umat beramai - ramai mengucap maaf dan membuka pintu ampunan; Baik melalui pesan singkat maupun ucapan yang padat namun tidak jelas. Dimana banyak keluarga berada mencoba waktu dan uangnya, untuk membeli pembalut kulit. Dimana akan ada banyak anak manusia meminta tunjangan hari raya, sedangkan para orangtua akan merasa dirugikan karena dengan begitu mereka tidak kunjung kaya.

Sedangkan anak - anak remaja yang ingin melampiaskan syahwat bersama pasangan mereka, akan segara melancarkan segala daya dan upaya, tentunya pasca Hari Raya. Mereka - mereka yang dimabuk cinta dengan lawan jenis, dipastikan akan kembali berduaan di segala tempat yang mampu membuat mereka serasa berdua di dunia. Lalu, umat - umat sekalian, setan - setan yang dibelenggu dibawah panas neraka akan segera mendapat tiket bebas untuk mengacaukan daratan di sana; Sedangkan bagi yang sudah lama bebas dari api dan siksaan, itu bukan hanya berbeda jenis dengan setan pada umumnya, namun dia sudah mempunyai inang di dalam tubuh manusia -sering dinamakan Setan manusia-.

Ya, semua yang diikat akan bebas. Semua pahala yang berlipat akan kembali pada kondisinya yang paling semula. Semua rahmat-Nya yang digelar dan diberikan secara cuma - cuma, akan ditarik dari peredaran. Dalam hakekatnya, kita manusia yang menginginkan itu semua, harus menunggu 11 bulan lamanya. Itupun selama ajal bisa lolos dari usaha menjerat kita. Itupun selama sang Mati tidak berusaha merusak rencana kita di dunia.

Mengapa kebanyakan dari kita hanya bisa senang - senang saja ? Mengapa tidak banyak dari kita yang justru sedih dan berlinang air mata, melihat kenyataan bahwa Ramadhan sudah akan memisahkan diri dari kita ? Kapan lagi kita akan melihat anak - anak yang bersuka cita -memakai petasan- ? Kapan lagi kita akan melihat umat - umat berusaha dengan titik keringat penghabisan, menahan perut yang keroncongan ? Kapan lagi kita akan melihat rumah - rumah ibadah yang ramai dikunjungi orang - orang sadar dosa ? Sebelas bulan terlalu lama. Ketika datang, Ramadhan seringkali dibiarkan dan dilupakan, tatkala dia tidak bersama kita, kita selalu merindukan dan menunggu kedatangan mereka. Manusia seperti kitakah penghuni neraka ?

Pikirkanlah.

Ditulis dengan perenungan tatkala banyak gangguan dari adik - adik yang ingin bermain bersama kakaknya

  • Digg It
  • add to Del.icio.us
  • Stumble it !
  • Furl
  • Stumble it !
  • Fave with Technorati