Pasang-surut kehidupan, yang menjelma bagai pelayaran tak kunjung usai, membuatku membeku dalam rutinitas. Rutinitas kota, yang dalam jalurku lebih bagus diterjemahkan sebagai kehidupan anak SMA. Ditegakkan oleh stabilitas, menjelma bagai robot kaleng yang tak punya hati dan jiwa. Setidaknya, aku ingin merasakan sari pati hidup -begitu menurut seorang Aqil Barraq Badruddin, atau Wadudh, yang jauh lebih dikenal sebagai Andrea Hirata- , sekali lagi. Dengan seribu kali hormat bahwa aku tidak mengingkari kegiatanku sebagai seorang siswa ataupun blogger, tetapi suasana yang sangat mbandung ingin sekali kusingkirkan dalam sementara waktu.
Tuhan tahu, tetapi menunggu. Leo Tolstoy meyakinkan kita bahwa perbuatan buruk yang sebesar zarah akan segera dibayar tunai di kemudian waktu. Begitu pula segala kebaikan, dan jeritan hati yang berisikan keinginan, setidaknya bagiku. Tuhan mengabulkan permohonan -dengan sedikit irama coincidence- untuk bertolak ke belahan lain Jawa Barat. Ciamis Manis, Manjing Dinamis. Bertepatan dengan Hari Kemenangan umat Islam itu, aku -yang tentu saja dibawa serta keluarga- berada di sana.
Aura dalam kota yang agak minus pancasuara ini memberi kesan yang baik. Untuk seukuran pusat kota, aku diteduhkan oleh rimbunnya pepohonan, atau mungkin kota Ciamis memang belum identik dengan panas. Dalam ingatan masa lalu, Ciamis merupakan kota yang tertinggal. Seperti halnya jam yang mati kutu karena tak ada baterai, Ciamis sungguh membeku dalam tradisinya sendiri.

Dan, ta~daa ! Aku salah. Definisi kehidupan masihlah masuk akal dengan perubahan yang selalu terjadi tanpa koma. Things changed lately, mate. Sekarang tinggal menyadari bahwa akulah yang menjadi katak dalam tempurung.
Setiap aku menginjakkan kakiku di kampung halaman ini, penjejalanku akan situasi merangkak naik layaknya sebuah proses evolusi. Setiap waktu dan kejadian menyiratkan buah dari perubahan yang sedang dialami. Dalam rumah yang dihuni oleh saudara - saudara, tembok pesimistis ini seketika retak, remuk dari tugasnya menghalangi pandangan imajinerku mengenai kota yang salah zaman. Sisi modernitas dan tata letak ruangan yang ada, membuatku percaya bahwa semua orang terus bergerak.
Utopia. Sebuah kampung halaman adalah surga bagi para perantau maupun anak - anak yang memiliki kerabat nun jauh di sana. Manusia yang beruntung adalah manusia yang membuat sebuah perubahan lebih baik di dalam harinya. Perubahan tidak melihat tempat, juga tidak mengenal waktu.
Hari ini, aku belajar banyak dari Sang Pemimpi dan Edensor; yang tak dinyana merupakan sebuah mahakarya dari Aqil Barraq Badruddin, atau Wadudh, yang jauh lebih dikenal sebagai Andrea Hirata. Bacaan yang kuincar pasca film Laskar Pelangi ini -kupinjam dari saudara- menuai benang merah dari sekumpulan rajutan kusut. Bahwa perubahan adalah mimpi yang dibuat menjadi nyata. Bahwa sebuah perubahan juga muncul dari kekuatan cinta dan keyakinan akan keberhasilan. Kenyataan bahwa Tuhan tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri, menapak jelas dalam tujuanku. Perubahan itu datang dari angan - angan, keinginan, mimpi seseorang.
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi - mimpi itu.” -Arai, Sang Pemimpi | Edensor
Dalam sebuah kesempatan yang memburu, aku menemukan rangkaian mozaik kehidupan lampauku. Tertulis dalam sebuah cerita yang akhirnya aku ambil dan abadikan kembali, hari ini. Meskipun hanya sebahagian, namun ucapan dan perkataan seseorang yang pernah disayangi dunia ini, mampu menggetarkan hatiku lagi.
“Jangan pernah merasa takut! yang takut cuma cecurut. Besok atau lusa, perubahan pasti datang. Sadar atau tidak, dituntut atau diarahkan. Terus berjuang! Jangan pernah menyerah demi sebuah kepercayaan.” ~ Alm. Harry Roesli
Ternyata, Tuan Hirata pemilik Sasta Belitong itu berada di sekitarku. Bekerja di PT Telkom Kelas Corporate yang bersarang di Jalan Japati. Ah, tuan, “Mereka jauh. Amat Jauh. Padahal mereka ini sebenarnya amat dekat“.
Dan aku masih bingung, mengapa pelajaran moral dan tanda - tanda sakit gila itu bisa sampai ada 44 macam ?










wah...kayakn ya asik nih, tampilannya keren b-)` 

















YOURBROWSER :
huaaaaa…
klo gina blum baca….
tebelll…
tp kynya ramee yaa !!!! 8->
YOURBROWSER :
YOURBROWSER :
Kita memang harus punya mimpi…dengan mimpi tadi kita berusaha mengejarnya, dan membuatnya menjadi kenyataan.
Betapa banyak temanku yang pandai, namun tanpa mimpi, banyak diantaranya yang menjadi biasa aja, yang dianggapnya sebagai takdir. Tanpa usaha, walau kita percaya adanya takdir Tuhan, maka kita akan tetap seperti biasa, dan akan diubah menjadi bukan siapa-siapa oleh perubahan yang semakin cepat oleh lingkungan disekitar kita.
YOURBROWSER :
@ Rindu
Aha..
@ imoe
Salam kenal, silakan, dan makasih.
@ Xaliber von Reginhil
Belum baca Laskar Pelangi ? Disitu ada.
@ missglasses
Latihan, Latihan..
YOURBROWSER :
beneran deh, bahasa lo bagus banget. pengen bisa nulis kaya lo gitu.
YOURBROWSER :
@Mihael Ellinsworth:
…iya juga sih. Tapi saya tidak lahir disana.
*ngaco*
Nggak bisa ke Bandung karena ayah lagi sakit, ngga kuat muter-muter seperti rutinitas tahunan. :|
Btw, ini apa?
YOURBROWSER :
bagus bgt postingannya..salam kenal ya….saya juga pengagum leo tolstoy dan andrea hirata….mohon ijin saya link ya… salam kenalll
YOURBROWSER :
Leo Tolstoy meyakinkan kita bahwa perbuatan buruk yang sebesar zarah akan segera dibayar tunai di kemudian waktu….
*I do believe..*
YOURBROWSER :
@ ardee
Amat jauh, jauh. Padahal sebenarnya dia amat dekat. Kayaknya kebanyakan di depan komputer nih…
@ kuro
Salken…
@ Taruma
Kalau pernah nonton Bruce Almighty, engkau akan tahu mengapa Tuhan terkadang hanya perlu mengumpulkan (dan memeluk) mimpi.
@ shinobigatakutmati
Ah, sebetulnya saya hanya menanti buku keempatnya saja.
@ itikkecil
Sedangkan 44 macam gila baru disebutkan di Laskar Pelangi.
@ lala