Kemiskinan, apabila banyak diderita itu karena ada orang yang tidak bisa menghindarinya. Setiap dentang dinamikanya, menjadikan setiap orang yang tidak berkecukupan menikmati perangnya. Mengemis bukanlah jalan hidup, namun orang rela menjadikan tangannya yang dibawah sebagai peluang hidup. Pemusik jalanan bukanlah tujuan hidup, namun lafal jalanan dan melodi urban membuat mereka begitu mengabaikan tekanan hidup. Kemiskinan bukan pilihan, kemiskinan bukan jalan penuh warna, siapa yang mau ? Tentu, pasti ada saja. Namun mayoritas mengatakan bahwa hidup tanpa lembaran uang hampir mematikan mereka.

Blog Action Day 2008

Back then (to our three heroes); Bernyanyi di jalan bukan kemauan, kemiskinan ada dalam haluan, namun menjadi warna kehidupan.

Aku merenung, jauh di dalam hatiku berkata, “Kemiskinan melengkapi yang kaya, Jek“. Dalam anggapanku, semua yang kaya pernah bekerja dan pada saat itu mereka memerintah yang miskin. Tapi, ah ! Kontemplasi semacam itu adalah ketidakrelevanan. Kaya adalah pilihan, seharusnya sedekah dan zakat menjadi kegiatan mereka. Mungkin imaji “miskin” menjadi sebuah kewajiban bagi yang berpunya untuk memberantasnya.

Apakah memang kemiskinan itu datang dan hanya tiba saat dia harus dienyahkan dari dunia ? Lalu the haves akan bersedekah kepada siapa ? Bukankah kemiskinan yang menghilang adalah salah satu tanda kiamat ? Ketika kekayaan yang melimpah, saat dimana manusia tamat kalimat ?

Kemiskinan itu relatif. Saat itu mungkin ada orang yang berpuas diri dengan kesederhanaannya. Mungkin juga ada orang yang bosan dengan segala kepemilikannya. Mobil bagus ? Uang melimpah ? Istri dengan tiga anak ? Bukan pula jaminan kesenangan. Meski segala kesederhanaan juga tidak berarti kemakmuran, tetapi masih banyak orang yang ingin menghilangkan keserakahannya.

Kemiskinan juga adalah keberuntungan. Dikala orang sibuk berperang dengan hutang, orang yang tidak sedang milik bisa mengharapkan subsidi. Uang gratis, beras gratis. Meski tidak seberapa, kapan lagi mengharapkan durian runtuh ?

Ah, tetap saja semua pembenaran itu bukanlah suatu kesimpulan. Aku malah berpikir bahwa dunia itu selebar daun kelor.

Mereka bertarung, demi selembar uang ribuan. Hidup bagaikan berjudi, dimana belum tentu mereka hidup di hari selanjutnya. Mereka berperang, ketika sewaktu - waktu sang penertib datang dan menangkap di tempat. Tidakkah mereka mengerti cara bertahan hidup di alam yang kejam ini ? Dunia mereka bahkan seperti tidak sama dengan kita. Makan normal sehari sudah seperti rejeki yang tidak datang dua kali.

Sekarang akulah yang tamat kalimat.

Mengakui kenyataan ini menjadikanku sentimentil di dalam pikiran. Kemiskinan itu memang ada, namun eksistensinya harus dilenyapkan. Mustahil atau tidak itu urusan belakangan. Atau apabila mungkin, jadikan kemiskinan sebagai stimulasi untuk menjadi lebih kaya kedepannya. Segala cara yang halal menjadi prioritas, tentunya mulai dari diri sendiri (Aku bukan induk yang menyusui anak kera, bukan ?).

Bukan berantas kemiskinan, tetapi “Perangi Kemiskinan“.

Dan kontemplasiku berakhir di situ…

-Ditulis tatkala Blog Action Day ‘08 dan menemukan mozaik kehidupan yang senada dengan kemiskinan.

Serupa denganku :

  1. Kemiskinan Pecas Ndahe
  2. Kemiskinan Di Sekitar Kita
  3. Saya Memalingkan Muka
  4. Miskin
  • Digg It
  • add to Del.icio.us
  • Stumble it !
  • Furl
  • Stumble it !
  • Fave with Technorati