Kemiskinan, apabila banyak diderita itu karena ada orang yang tidak bisa menghindarinya. Setiap dentang dinamikanya, menjadikan setiap orang yang tidak berkecukupan menikmati perangnya. Mengemis bukanlah jalan hidup, namun orang rela menjadikan tangannya yang dibawah sebagai peluang hidup. Pemusik jalanan bukanlah tujuan hidup, namun lafal jalanan dan melodi urban membuat mereka begitu mengabaikan tekanan hidup. Kemiskinan bukan pilihan, kemiskinan bukan jalan penuh warna, siapa yang mau ? Tentu, pasti ada saja. Namun mayoritas mengatakan bahwa hidup tanpa lembaran uang hampir mematikan mereka.

Back then (to our three heroes); Bernyanyi di jalan bukan kemauan, kemiskinan ada dalam haluan, namun menjadi warna kehidupan.
Aku merenung, jauh di dalam hatiku berkata, “Kemiskinan melengkapi yang kaya, Jek“. Dalam anggapanku, semua yang kaya pernah bekerja dan pada saat itu mereka memerintah yang miskin. Tapi, ah ! Kontemplasi semacam itu adalah ketidakrelevanan. Kaya adalah pilihan, seharusnya sedekah dan zakat menjadi kegiatan mereka. Mungkin imaji “miskin” menjadi sebuah kewajiban bagi yang berpunya untuk memberantasnya.
Apakah memang kemiskinan itu datang dan hanya tiba saat dia harus dienyahkan dari dunia ? Lalu the haves akan bersedekah kepada siapa ? Bukankah kemiskinan yang menghilang adalah salah satu tanda kiamat ? Ketika kekayaan yang melimpah, saat dimana manusia tamat kalimat ?
Kemiskinan itu relatif. Saat itu mungkin ada orang yang berpuas diri dengan kesederhanaannya. Mungkin juga ada orang yang bosan dengan segala kepemilikannya. Mobil bagus ? Uang melimpah ? Istri dengan tiga anak ? Bukan pula jaminan kesenangan. Meski segala kesederhanaan juga tidak berarti kemakmuran, tetapi masih banyak orang yang ingin menghilangkan keserakahannya.
Kemiskinan juga adalah keberuntungan. Dikala orang sibuk berperang dengan hutang, orang yang tidak sedang milik bisa mengharapkan subsidi. Uang gratis, beras gratis. Meski tidak seberapa, kapan lagi mengharapkan durian runtuh ?
Ah, tetap saja semua pembenaran itu bukanlah suatu kesimpulan. Aku malah berpikir bahwa dunia itu selebar daun kelor.
Mereka bertarung, demi selembar uang ribuan. Hidup bagaikan berjudi, dimana belum tentu mereka hidup di hari selanjutnya. Mereka berperang, ketika sewaktu - waktu sang penertib datang dan menangkap di tempat. Tidakkah mereka mengerti cara bertahan hidup di alam yang kejam ini ? Dunia mereka bahkan seperti tidak sama dengan kita. Makan normal sehari sudah seperti rejeki yang tidak datang dua kali.
Sekarang akulah yang tamat kalimat.
Mengakui kenyataan ini menjadikanku sentimentil di dalam pikiran. Kemiskinan itu memang ada, namun eksistensinya harus dilenyapkan. Mustahil atau tidak itu urusan belakangan. Atau apabila mungkin, jadikan kemiskinan sebagai stimulasi untuk menjadi lebih kaya kedepannya. Segala cara yang halal menjadi prioritas, tentunya mulai dari diri sendiri (Aku bukan induk yang menyusui anak kera, bukan ?).
Bukan berantas kemiskinan, tetapi “Perangi Kemiskinan“.
Dan kontemplasiku berakhir di situ…
-Ditulis tatkala Blog Action Day ‘08 dan menemukan mozaik kehidupan yang senada dengan kemiskinan.
Serupa denganku :










wah...kayakn ya asik nih, tampilannya keren b-)` 

















YOURBROWSER :
kemiskinan sll menjadi hal yg memiriskan hati Qta…. Semoga kemiskinan suatu hr nantis bs tertanggulangi….
YOURBROWSER :
kontemplasi sih ok, yg penting jgn lupa mengamalkannya
YOURBROWSER :
@ Iman Kristen
Percayalah; Soal SPAM itu serius, tetapi komentar saya di blogmu itu, sama bercandanya dengan saya ketika serius…
@ SJ
Maksud loh ??
@ mina
Relativitas yang eksak..
@ hanggadamai
Ya, ya, ya…
@ lala
Aha, komentar penuh keseriusan. Untuk apa saya tidak setuju denganmu ?
@ Nenad Mohamed
Terima kasih.
YOURBROWSER :
Two thumbs up!!!
bener-bener perlu perenungan ne baca posting diatas
YOURBROWSER :
akhir dr sebuah crita kan hanya penulis yg mengetahui
dan kemiskinan adalah salah satu bentuk cerita yang ditulis untuk kemudian dijalani oleh tokoh2nya…
bukan kekhawatiran akan berakhirnya keseimbangan dan kiamat terjadi bila kemiskinan tak ada
tapi usaha dan jalan menamatkan sebuah kisah (kemiskinan) what being count of..
we dont buy book just to read the ending, but we buy book to gain lesson from the journey
.. so lets fight poverty start with ourselves!!
YOURBROWSER :
sudah tugas kita mengentaskan kemiskinan
YOURBROWSER :
iya, miskin itu relatif. gaji PNS di tempatku serasa kaya raya, begitu ke Jakarta langsung merasa miskin :p
YOURBROWSER :
kemiskinan manfaat mungkin yg paling dulu diperangi. sugeng riyadi.
YOURBROWSER :
Thanks untuk kedatangannya….ke blog saya…
Saya jarang memberikan link kalau berkunjung ke blog orang lain “kecuali” memang saya punya ide dan pemikiran yang “sesuai topik-nya” dengan tulisan pada blog tersebut.
Ini mirip memberikan “referensi” dari tulisan lain. Kebetulan saja saya menulis dengan topik yang sama.
Maaf ya…, kalau anda merasa link saya diatas sebagai spam…, mohon dihapus saja.
Tuhan memberkati anda…
Salam.
Pesan:
, mohon jangan sakit hati dengan link saya atau isi dari link tersebut…
Peace…