Aku bukanlah seseorang yang amat menyukai sekolah—sekalipun pernah jadi pintar secara statistika disana—ditambah lagi aku ini membenci UAN Indonesia. Perasaan negatif itu tentu berkesan naturalis, bagaimanapun, karena aku adalah seorang siswa yang dikelilingi murid - murid lain dengan perasaan takut pada dua hal tersebut. Bukan, bukan, aku bukan Emo ataupun begundal bandel yang fashionista. Tidak juga karena saking geek-nya lebih pilih komputer dan kacamata tebal daripada buku pelajaran. Mungkin karena haluanku berada di kelas sosial maka pikirannya sama seperti segelintir preman sekolah lainnya—(sok)pemberontak.
Benar sekali. Dalam pemikiran terstruktur itu pastinya ada alasan logis untuk menjawab keantianku. Validitas dan objektifitas lewatlah semua, karena pemikiran mentah ini adalah suatu teriakan kepada panglima pendidikan—tentunya sudah sedikit dimewahkan agar pendengarnya tidak sampai kebakaran jenggot.

Kelas Sosial yang Memiliki Seorang Gila.
Sebagai catatan bahwa aku ini memang melihat sesuatu dengan relativitas. Bahwa absolusitas dan seratus persen kemungkinan di dunia ini tidak ada. Begitu pula apabila anda - anda pasti akan ada yang berpendapat lain dan berbeda dariku. Ah, apalah artinya egois, aku pasti akan menerima uluran argumentasi itu.
Sekian lama semenjak dulu aku berpikir mengenai sekolah. Seiring umur akupun mengikutsertakan UAN kedalam daftar pertanyaanku. Harusnya kalau aku beranjak dewasa, maka aku akan berkembang menjadi kritis dan mulai menjawab pertanyaan itu, dong? Me-nga-pa A-ku Ben-ci U-AN dan Se-ko-lah??
UAN dan sekolah lebih sering serupa apabila tidak dibilang sama. Diantara keduanya terkait suatu persamaan yang disepakati olehku
Semua itu Mengorientasikan Nilai
Setidaknya jauh lebih terhormat daripada “Menyembah nilai“, juga lebih pas dan tidak sehiperbola saudaranya, “Mendewakan nilai“. Menghabiskan hampir dua belas tahun di jenjang bangku pendidikan tentulah membuatku hampir menjadi seorang yang gila angka. Dengan nilai ketuntasan minimum yang terabadikan dalam rapot murid senusantara, tentu membuat sebuah tolak ukur betapa bodohnya seorang anak apabila dia tidak mampu melewati hal itu.
Semua akan jauh lebih merepotkan; Semprot orangtua lebih sering terdengar menuju anak yang sebenarnya tidak berbakat pada sebuah Matpel (Mata Pelajaran). Memaksa seorang murid yang berpotensi di dunia imajinasi otak kanan mengerjakan soal Fisika? Telanlah ludah. Tanpa kerja keras, maka jawaban akan sering salah.
Jikalau semua itu beranjak jauh sekali (Dan memang sudah), maka lahirlah generasi - generasi yang lebih mengharapkan hasil daripada proses pengerjaan sebuah kejadian. Ketika seorang aku memiliki nilai yang kecil di dalam sebuah Matpel, maka dalam pikiranku, rasio kemungkinan terpilih “Menyogok guru/Meminta bantuan tim sukses” akan jauh lebih banyak probabilitasnya daripada “Belajar keras tahun depan“. Makanya hari ini aku lebih suka makan mie instan.
Sama di Tempat yang Sama
Selamat tinggal Picasso II dan Para penerus Avant Garde. Sejauh yang aku tahu, sekolah merupakan tempat menatar segala bentuk otak kiri. Dimana kita akan lebih sering melihat soal - soal eksakta daripada lukisan - lukisan hasil kreasi anak bangsa. Dasarnya kalian yang tidak suka dengan pelajaran hitung-berhitung tentu akan menyelamatkan diri ke bidang Sosial. Tetapi penyamarataan ilmu ini, jelas membuat segelintir murid tidak sreg.
Padahal setahuku, manusia adalah mahluk yang tidak sama diantara lainnya. Mereka jelas dirangkai dengan sparepart yang sama oleh Tuhan, tetapi soal fungsionalitas otak, pikirlah dua kali. Potensi seorang manusia itu jelas akan menentukan belahan otak mana yang akan dia fungsikan lebih. Ta~daa! Sekolah umumnya tidak pernah melihat semua itu. Semua murid akan mendapat jatah pendidikan yang sama, jam belajar yang sama, dan pengolahan kemampuan otak yang sama.
Boleh saja melupakan soal keunikan di dunia akademika. Prince Charming atau Princess Charming biasanya hanya akan terlihat di kala jam Ekstrakurikuler atau waktu istirahat sekolah. Orang yang sering bertanya pada guru atau serius di depan buku pelajaran kelas III bukanlah figur seorang hebat.
Hak Nilai yang Berada di Tangan Guru
Sebenci - bencinya dengan sekolah, aku tak akan pernah melupakan keringat dan peluh seorang guru. Hidup pahlawan tanpa tanda jasa!
Siapa pula itu Puspendik Balitbang. Apa pula itu Badan Standar Nasional Pendidikan. Untuk apa juga Departemen Pendidikan Nasional bertugas menilai kinerja perjuangan murid semesta lewat 3 hari Ujian Nasional? Seorang guru yang layaknya orangtua di sekolah takkan pernah bisa disamai dengan ketiga figur diatas. Hak nilai? Perjuangannya harus di tangan mereka.
Mengapa harga diri kita begitu maunya dipertaruhkan oleh seseorang yang belum tentu kita kenal, bukan? Dengan jatuhnya kepercayaan di tangan seorang guru, niscaya kepercayaan diri mereka akan kembali pulih. Menyoal cara, jangan tanya padaku. Tanya pada “Dewa disana itu“. Kepadaku, jangan harap mendapat respons.
—
“Sekolah itu, ya Jalanan. Sekolah itu, ya teman - teman. Sekolah itu, ya dunia maya.“
Sementara kalian boleh saja panas hati, aku mendapat sebagian besar ilmu dari beberapa aspek diatas. Seorang guru Seni Rupaku pernah berkata,
“Nggak akan ada orang asing di luar sana yang tiba - tiba bakalan nanya ke kalian tentang Integral atau teori relativitas! Nggak akan ada orang yang tiba - tiba nanya beginian di jalan; Eh, eh, kalau Diferensiasi sosial itu apa, ya? “
Sekarang silakan tanya soal kejenakaan pada orang, rasanya mereka mungkin saja akan bersahut.
Kalau soal ilmu pengetahuan, memang banyak jalan menuju padanya. Seorang siswa yang DO dari sekolahnya tidak lantas akan menjadi figur penjahat paling kalah di negara ini. Kembali ke stereotip, Bill Gates adalah seorang kaya yang pernah dikeluarkan dari universitasnya. Sedangkan Albert Einstein benci sekolah tetapi mampu menemukan teori relativitas. Pendidikan itu mungkin absolut di sekolah, tetapi sebuah ilmu akan terus berkembang dimana saja dan kapan saja. Sedangkan Tuhan akan memberikan anugrah ilmu kepada umat yang mencarinya. *Menyeruput kuah mie instan*
Sudahkah anda mendapat ilmu dari sesuatu selain sekolah?










wah...kayakn ya asik nih, tampilannya keren b-)` 

















YOURBROWSER :
maap, kebalik kayaknya…
yang bener
ghani arasyid » » last post title - smile! laugh!
YOURBROWSER :
Saya dulu nilai UAN-nya juga pas-pasan
Soalnya lebih fokus ke SPMB, sebuah tuntutan dari Ayah Ibu untuk masuk ke PTN.
Memang benar, keberhasilan studi seseorang nggak selamanya bakal jadi kunci sukses. Oleh karena itu saya sengaja tidak mau berada dalam jajaran IPK tiga koma *sombong mode ON
Karena ada pepatah lama dari senior…
IPK >2,5 adalah pengusaha sukses
IPK 2,5 s/d 3,0 adalah karyawan
IPK 3,0 < adalah ilmuwan
ghani arasyid » » last post title - smile! laugh!
YOURBROWSER :
@Mihael Ellinsworth:
Saya cukup setuju sama klasifikasi itu, jadi ujian nasional sistemnya akan dilakukan secara regional, meskipun mungkin regionnya tak seluas itu.
YOURBROWSER :
@ Zippy
Maaf, aku tak mau berpengalaman seperti itu.
@ Xaliber von Reginhild
Itu berarti berangkat lagi ke kultur, bukan? Sepertinya kita (orang Indonesia) ini masih banyak yang “meminta jantung waktu dikasih hati”. Tapi pendapat pribadi, seharusnya UAN dibuat soal dengan 3 bagian : Bagian Indonesia Barat, Bagian Indonesian Tengah, dan Bagian Indonesia Timur. Tentu dengan begitu pembuatan soal menjadi lebih susah, namun setara dengan penyebaran pendidikan di bagian daerah itu.
@ agunk agriza
YOURBROWSER :
wew.
mari tolak uan. hhi
YOURBROWSER :
Satu masalah kalau sekolah yang dijadikan penentu kelulusan: lulus 100%. Entah itu jujur atau tidak. Sekolah mana yang mau membiarkan namanya tercoreng dengan adanya murid yang tidak lulus?
Sebenarnya beberapa tahun ini ujian nasional sudah mendingan. Kalau mau lanjut kuliah, nggak murni dijadikan patokan.
Masalah semacam ini sudah dihadapi pemerintah dari zaman batu sih. Pasca-kemerdekaan, ada yang namanya ujian negara. Kelulusan siswa ditangani oleh pemerintah 100%, dan tidak ada yang namanya ujian sekolah. Sistem ini ya memang tidak lepas dari adanya murid yang menggunakan cara curang, tapi toh seleksi ketatnya membuat sistem ini dirasa bagus. Tapi saking ketatnya, jadi banyak yang nggak lulus.
Alhasil, tahun 1965, sistem diganti lagi jadi ujian sekolah. Kelulusan murid seratus persen ditangani oleh sekolah. Tapi ya seperti yang diwanti-wanti, banyak terjadi kecurangan. Murid-murid pada lulus, tapi banyak yang nggak berkualitas. Yang mestinya lulus jadi nggak lulus.
Tahun 1982, digantilah jadi EBTANAS yang merupakan kombinasi ujian negara + ujian sekolah. Tahun 2002 namanya berubah jadi UN.
Dilema memang. Kalau kita masuknya ke sekolah akademis, yang gunanya menimba ilmu pengetahuan, ya secara obyektif-empiris ilmu itu sendiri yang mesti diasah. Kalau ingin mengasah yang lain, semestinya masuk sekolah seni.
Dan rada susah kalau mau mengukur kapasitas pengetahuan yang sudah didapat sang murid. Mau nggak mau, karena skalanya se-Indonesia, ya mesti pakai cara yang obyektif. Se-Jakarta atau se-Bandung aja juga mesti tetap pakai cara obyektif (ujian nasional itu), karena banyaknya pelajar di satu kota.
YOURBROWSER :
Wadow, sama kayak gue bro…
Taon kemarin pas kelas 3 SMA, gue juga males banget ma yg nama’x UN…
Masa selama kita skul 3 taon, lulus N nggak’x hanya ditentukan pada saat UN doank…
Berarti nggak ada guna’x kita skul selama 3 taon itu…
Mending kita skul’x pas mw UN aja, wkekekekeke…
Kmrn juga nyari soal UN tuh gue, hahahahaha…
Semangat..!!
YOURBROWSER :
@ indungg
Opini saya kadang tidak membuahkan solusi, kok.
@ Cabe Rawit
Agenda tahunan radio, tuh.
@ oirassecssneD
Hoh?
@ Rindu
Jadi kehidupan adalah sekolah sebenarnya, begitu?
@ SaRaH
Owh…Let the old times roll. Begitulah, sepertinya berakar dari pergantian kurikulum secara terus - terusan.
@ manz
Tentu. Karena itu saya bilang ini adalah pendapat mentah. Btw, pemerintahan kali ini paling bagus kok, menurut saya.
@ lala
Saya blending dengan kehidupan mayoritas, lho Dengan etika, tentunya.
@ bukansuperstar
Yap, saya hanya berharap akan kemudahan-Nya.
@ easy
Menangkap arti terselubung dari mie instan itu, tidak?
YOURBROWSER :
setelah baca artikel ini panjang x lebar…
akhirnya satu yang saya dapatkan…
8-> keknya mie kuah instantnya enak banget… sampe diseruput gitu
YOURBROWSER :
UANmemang pantas dipisuhi….

tapi sayanganya mau tidak mau harus kita hadapi….
karena UAN nilai rapot jadi gak kepake dalam penentuan kelulusan