Adalah sebuah pengantar. Karunia Sang Pencipta dengan rumbaian permainan kata. Bahasa bangsa ini, maka tentu bukan hanya milik priyayi ataupun para pujangga, tetapi dapat diperdengarkan sekalipun oleh kaum jelata. Namun adalah sayang berjuta tangis, banyak kaki melangkah lari dari kebanggaannya, membuat sebuah tolak ukur baru yang tidak serupa dari apa yang aku sebut sebagai bahasa ibu.

 

Bahasa Indonesia

Di dalam kelabu ramai yang menyelimuti.

Apa, bagaimana dan mengapa? Sudikah kalian melenggangkan pijak dan kicauanmu dari negara sejahtera ini? Apakah sebuah kebakuan yang kaku menyebabkan egomu memakai alasan itu untuk memenangkan segala - galanya? Padahal rentetan “kamus gaul”, “campuran indo-inggris-daerah” tidak seharusnya mengalahkan keberadaan induk sendiri!

Sebelumnya aku berkaca, menghadapi refleksi dari kejujuran dan lembar sejarah, bahkan bercermin pada riak air. Bukankah suara kita berbeda dari tempat - tempat lain? Diantara eksklusifitas ‘Boso Linggis’ yang diadaptasi oleh banyak kesatuan negara, bahasa kita mampu berdomisili, membuat kompleksitas dan dipakai sebagian oleh negeri jiran. Bahasa kita ini seperti halnya Tagalog, Russian, Portugese, Jepang, Chinese, ataupun perihal kebahasaan lainnya yang dapat menyusun eksistensinya sendiri. Berangkat dari Bahasa Melayu Tinggi, bersaudarakan Sanskerta dan segenap bahasa daerah lainnya, Indonesia dihadirkan di telinga manusia.

Tetapi jiwaku waswas, raga susah berotakkan cemas. Bukanlah takut mendera - dera tetapi kekuatan untuk menegakkan kemaslahatan bahasa sudah mulai terpecah - pecah. Bagaimana tidak, kawan, bahwa banyak dari engkau yang serta - merta berkhianat dari ibunda, membuat adaptasi tersendiri, murtad. Membuat keseragaman suara Bapak - bapak kita nampak seperti penguasa durjana yang memiliki seribu suara. Pada hakekatnya, kau memberontak! Kau buat bahasamu sendiri.

Aku hanya bisa bermuram durja.

Mungkin aku mampu bilang, “Persetan dengan Hak Asasi Manusia!” tetapi aku tidak mau. Apalah kekuatanku untuk mengekang diri kalian yang ingin lepas dari sangkar kebakuan dan jurang formalitas. Mungkin saat ini akulah yang terlemah diantara kumpulan kalian - kalian itu. Yang hanya bisa membisu dalam nyata sementara di tempat lainnya berteriak bagai towa, keras - keras dan kadang salah telinga.

Tetapi mengertilah, wahai kawan. Mengertilah didalam ulu hatimu itu kadang berteriak tentang kebenaran. Kadang teriakan itu terbentur dengan besarnya api kemarahan yang membelenggu akal sehat. Masa bodohlah! Mengerti. Mengerti. Mengertilah, wahai kawan.

Mengerti, bahwa sesulit itulah menjaga keberadaan bahasa kita itu. Sesukar memerdekakan teritori dari cengkeraman pendatang yang semaunya menginjak - injak diatas penderitaan. Sesusah membongkar kejahatan dalam area, dengan dalih menjaga nama baik almamater dari pelakunya. Dan, sesulit membaca struktur kalimatku ini. Aku tidak mau menyebut kalian sebagai penjahat bahasa karena seenak hati mengubah sistem dan konsepsi, tetapi begitulah keadaannya. Aku kurang suka menyebut engkau durhaka karena tega menyiksa Bahasa Indonesia dengan keangkuhan, tetapi begitulah keadaannya.

Aku begitu merindukan penyair - penyair muda. Pujangga yang tidak hanya atas nama cinta. Juga pelukan kasih dari orator muda dengan semangat pemuda sebenar - benarnya!

ini juga modernisasi-globalisasi: kata - kata jadi kering.
~ Agam Wispi, dalam sajak “Pulang”
“Di Negeri Orang”, hal. 32

  • Digg It
  • add to Del.icio.us
  • Stumble it !
  • Furl
  • Stumble it !
  • Fave with Technorati