Jika membahas kuasa “durjana” dari masa - masa orde baru, maka traumalah orang yang begitu dekat dengan palu arit. September 1965. G30S-PKI. Murkalah orang yang disangka anggota Gerwani atau dekat dengan orang komunis. Maka sakitlah hati para mantan Tapol yang sampai status rusaknya itu mengikut ke Kartu Tanda Penduduk. Maka bicarakanlah soal orang - orang yang pernah dibuang ke negara orang. Siapa ? Tentu banyak. Ketika harus berada di negeri orang karena diekstradisi dari tanah sendiri, mereka bisa saja kedatangan trauma politik. Dihajar oleh rindu, emosi, dendam menjadikan banyak dari mereka merajut kehidupan dengan media puisi. Ketika banyak sastrawan dan aktivis banyak mengutuk rezim Soeharto di negeri Indonesia, penyair Indonesia yang terbuang di luar negeri membentuk sebuah fenomena bernama “Sastra Eksil Indonesia“.

Di Negeri Orang - Puisi Penyair Indonesia Eksil
“Tidak seorang senimanpun yang ingin dan rela menjadi Eksil apalagi menjadi Eksil seumur hidup. Semoga sastra eksil Indonesia tidak akan pernah lahir lagi. Tapi apa yang sudah lahir sudah pasti akan jadi sejarah termasuk pula sebuah sastra Menjadi pengarang dan seniman untuk kedua kalinya selalu terbuka kemungkinannya. Tapi janganlah hendaknya kembali atau terpaksa meneruskan kehidupan Eksil yang sekarang ini.“
~Asahan Alham, “Di Negeri Orang“, Amanah - Lontar, April 2002
Z. Azif adalah salah satu penyair eksil yang saat itu berada dalam pengasingan di negeri orang. Terlahir ke dunia pada tahun 1936, Aceh, Sumatera Utara. Di era 60-an beliau sempat aktif dalam menulis khususnya di harian Waspada Medan dan beberapa koran dan majalah Jakarta. Aktif dalam Lembaga Kebudayaan Rakyar (Lekra) sebagai anggota pleno. Pada tahun 1965, dia mendapat suatu undangan untuk kunjungan budaya ke Republik Rakyat Tionghoa dari Himpunan Pengarang Tiongkok. Tetapi diakibatkan oleh keaktifan di Lekra, serta bencana politik tahun 1965, Azif tidak mungkin kembali ke Indonesia.
Sastra Eksil ada karena keadaan. Berada akibat sejarah dan kejadian. Para penyairnya banyak yang tidak bisa kembali dari Peking, Beijing, Hanoi, Leipzig, Moskow, atau negara lainnya akibat dari arus balik politik Indonesia. Diantara banyak penyair eksil Indonesia dalam belahan dunia, adalah lima belas diantaranya yang berhasil mengabadikan mozaik - mozaik kehidupan gelap mereka, yang terbungkus dalam enigma puisis, kedalam sebuah kumpulan sajak berjudul “Di Negeri Orang : Puisi Penyair Indonesia Eksil“.
Salah satu sajak yang kusuka dari buku itu adalah karangan A. Kohar Ibrahim yang berjudul “Semangkuk Sup Tumpah”. Yang apabila tidak salah juga diabadikan dalam majalah Kreasi No. 37, terbitan tahun 1998 :
Semangkuk Sup Tumpah
A. Kohar Ibrahim
Semangkuk sup tumpah dan jatuh terpecah-belah
Seketika sedih seketika senyum mendapat inspirasi:
Menggunakan gada negara untuk naik takhta
Yang melampung di telaga tumpahan darah
Difitnahnya Gerwani
Pemuda Rakyat dan PKI dicaci-maki
Lantas semua pendukung Bung Karno ditumpas
Kekuasaan negara pun dirampas!
Sup tumpah menimbulkan inspirasi
Menumpahkan darah jutaan manusia korban represi
Menumbangkan Orde Lama menegakkan Orde Baru
Suhartokrasi!
Kukenang kisah sup yang tumpah
Di malam suram 30 September ‘65
Kukenang awal tragedi ini yang mencengkam makna
Ungkapan gurubesar Wim Wertheim: “mata-rantai yang sirna”
Sup tumpah seiring fitnah Sang Durjana
Pembantai, penipu, dan perampok kekuasaan dan kekayaan negara
Tapi, betapapun angkuh dan rakusnya pasti takkan abadi
Di depan pengadilan kebenaran sejarah dan Sangkala
Betapapun pernah adanya Sastrawan Eksil Indonesia, aku jelas berpendapat serupa dengan Asahan Alham; Semoga sejarah yang sama tidak akan pernah terulang lagi. Beberapa bulan lalu ketika wacana tentang lembaga pembredelan akan diberadakan lagi lewat draft Perubahan UU Pers , serta-merta para dunia pers dan HAKI menolaknya. Tentu momok akan rezim otoriter dan “pembutatulian” warga menjadikan mereka was - was terhadap segala bentuk pemblokiran kebebasan Informasi.
Sudahkah engkau memperjuangkan hak berpendapat? Atau…Sudahkah engkau menggunakan hak berpendapat?










wah...kayakn ya asik nih, tampilannya keren b-)` 

















YOURBROWSER :
puisi2 eksil itu –terus terang aja– jarang ada yang bagus. kecuali “pacar terbang”-nya agam wispi.
zen » » last post title - Eksekusi
YOURBROWSER :
@ ansha
Sebenarnya itu bukan idiom, kok (secara tersurat), tetapi memang sang penulis mendapat inspiras dari sup tumpah itu.
Dan terima kasih atas pujiannya.
@ Ersis Warmansyah Abbas
Sejarah mungkin tidak akan berulang, tetapi sebagai succesor, pasti akan diikuti oleh kejadian yang serupa. Orang awam menyebut itu sebagai “kejadian yang terulang”.
Ah, ya. Buku itu diterbitkan oleh Lontar.
@ gagahput3ra
Hahaha, perumpamaan yang lucu.
@ Chic
Merekalah yang kurang kerjaan karena lebih berpikir bahwa kerusakan moral lebih berbahaya daripada kesenjangan sosial.