Jika bungkam adalah pilihan, maka berteriak bisa jadi opsi yang diproritaskan.
Kapan anda terakhir kali berargumentasi? Pertanyaan ini takkan cocok bila ditujukan kepada kaum - kaum politikus atau penulis. Bertanya begitu mungkin akan terasa normal bagi kalangan seperti mereka, dan bagiku itu jelas tidak asyik.
Adalah teman - teman sekelasku, yang bercerita bak penyair dengan perantara coretan tangan berlintaskan imajinasi. Dibongkarnya pikiran mereka mengenai apa yang berlangsung di tahun duaribudelapan. Di atas secarik kertas yang terkumalkan, tumpahan aspirasi pun mereka alirkan. Hasilnya tentu bagus, dengan dasar argumentasi sebagian besar orang akan mengatakan, “Njelimet! Susah dilihat!“, tetapi apalah buruknya. Bagi semua rakyat Indonesia ini sudah menginjak masa reformasi. Setelah tirani Alm. Soeharto runtuh diinjak oleh berjuta rasa, sudah saatnya orang - orang muda seperti kita mengeluarkan suara.
Sebagai catatan saja; Andai ketiga orang yang terkena muntahan peluru 6 orang eksekutor di Lembah Nirbaya tempo hari mempelajarai cara yang lebih beradab ini, mungkin mereka akan lebih dikenal sebagai pahlawan tanpa tanda jasa ketimbang seorang Syuhada atau semacam Teroris.











wah...kayakn ya asik nih, tampilannya keren b-)` 

















YOURBROWSER :
Kalau protes pakai kertas dan alat tulis saja kan kurang menggigit. Coba kalau protes dan menyuarakan aspirasi pakai kekerasan. Pasti lebih dahsyat dan menarik perhatian, makanya mereka yang tewas itu melakukannya..